Top Comment :

Lucky

Selasa, 08 Desember 2009

Melihat dari judul, mudah-mudahan anda tidak mengira bahwa aku akan mempromosikan keindahan kota Singapore karena itu hanyalah sebuah judul belaka. Namaku adalah Joe dan aku di Singapore bekerja sebagai agen asuransi. Para pembaca yang budiman, aku ingin menceritakan pengalamanku yang baru terjadi hari ini. Anda bisa menganggap ini hanya cerita fiksiku atau impianku, tetapi yang pasti aku baru saja mengalami kejadian ini.

Hari ini pimpinan perusahaan tempatku bekerja menyarankan agar aku kembali ke Jakarta untuk mencari client di Indonesia, tentunya keberangkatanku ke Singapore dibiayai oleh perusahaanku, makanya aku tidak ada masalah pergi ke Jakarta karena aku juga bisa bertemu dengan keluargaku di Jakarta. Setelah aku memesan tiket perjalanan ke Jakarta, aku kembali ke apartement-ku untuk menemui tante kost-ku. Aku menunggu tante kost-ku di apartement dan tiba-tiba ada ketukan di pintu kamarku. Ketika aku membuka pintunya, ternyata di depan ada 3 rekan kerjaku yang semuanya wanita. Aku sempat kaget karena aku merasa tidak pernah mengundang mereka. Mereka adalah Eunice, Jacelyn dan Lily. Rekan kerjaku semuanya telah menikah atau sudah memiliki kekasih, aku pun telah memiliki kekasih di Jakarta.

Mereka akhirnya masuk ke apartement-ku dan mereka mengatakan bahwa mereka ingin memberikan petunjuk dan nasehat selama aku di Jakarta. Aku mempersilakan mereka masuk ke kamarku dan supaya tidak menganggu teman seapartement-ku, aku mengunci pintu kamar.

Ketika mereka di kamarku, rupanya aku secara tidak sengaja menyalakan DVD karena letak saklar lampu, saklar DVD dan TV berdekatan satu sama lain. Aku sempat malu kepada mereka apalagi ketika aku menyalakan saklar itu, TV dan DVD langsung menyala dan muncullah gambar sepasang orang Jepang sedang bercinta. Percakapan kami langsung terhenti dan perhatian mereka bertiga langsung terfokus kepada TV yang sedang menyala sedangkan aku sudah tidak bisa mengeluarkan kata-kata karena aku malu sekali.

Tetapi aku sungguh sangat terkejut melihat perlakuan mereka bertiga karena setelah 10 menit mereka melihat film VCD porno tersebut, aku dapat melihat sebuah pemandangan yang sangat merangsang. Ketiga rekan kerjaku sedang mengelus-elus bagian kelamin mereka yang tertutup oleh celana dan rok mereka masing masing. Melihat kejadian ini, aku sungguh terangsang dan penisku langsung berdiri.

Tiba-tiba rekan kerjaku yang bernama Eunice mendekatiku dan langsung menabrakku yang sedang terbengong-bengong dan menciumku. Dengan secepat kilat, dia mengecup bibirku dan memainkan lidahnya di dalam bibirku. Naluriku secara refleks langsung memainkan lidahnya sementara tanganku langsung memainkan payudaranya yang lumayan besar. Setelah kami puas berciuman, aku langsung menggendong dia sambil mendekati Lily dan Jacelyn yang saat itu sedang saling melakukan posisi 69. Sungguh suatu pemandangan yang erotis.

Sementara aku dan Eunice sedang asyik berciuman dan kami dengan nafsunya saling menelanjangi satu sama lain. Setelah tubuh kami tanpa busana, aku langsung menciumi payudara Eunice yang sudah terpampang lepas sementara jari-jariku dengan aktifnya berada di sekitar klitoris Eunice dan memainkan klitorisnya. Hal ini membuat kamarku menjadi penuh dengan suara desahan 3 wanita muda yang haus akan seks. Kuteruskan tanganku bergerilya dan kugesek-gesekkan di clitorisnya, kira-kira 15 menit aku bermain di lubang dan bibir kemaluannya, sambil setengah sadar dia berkata, "Aduh.. geliii.. geliii.. Joeee".

Tanpa kusadari tangan dan liang kemaluan Eunice sudah basah dan berlendir, tangannya rapat memegang pundakku dan mulut kami telah beradu, sambil saling mengulum. Keadaan masih seperti semula aku duduk sedangkan Eunice setengah membungkukkan badannya dan lidah kami saling menari, mendesah tanpa rasa canggung lagi sementara tanganku masih bergerilya di lubang kemaluannya. Kusuruh Eunice untuk memegang sambil mengelus-elus burungku secara perlahan, sementara aku sudah nafsu sekali sambil tetap kukulum mulutnya hingga turun ke leher kujilati semuanya sampai akhirnya ke puncak gunung kembarnya, Eunice mengerang keenakan. Tangan Eunice tetap meremas dan mengelus burungku.

Setelah agak lama aku menyusu, lalu kubisikkan kepadanya, "Eunice bagaimana kalau burungku masuk ke sangkarnya..?"
"Eunice belum pernah melakukannya Joeee., Eunice takut.."
Tapi berhubung aku sudah tidak kuat lagi maka kusuruh Eunice untuk mengulum burungku, kuturunkan Eunice dari atas ranjang, jongkok di bawah ranjang sambil kubimbing mulutnya untuk mengulum burungku.

Pertama dia agak ragu-ragu karena menurut pengakuannya belum pernah Eunice melakukan oral sex. Kukatakan padanya bahwa tidak apa-apa asal air maninya jangan di telan. Akhirnya dengan perlahan bibirnya mengecup ujung burungku dan dengan sangat berhati-hati dimasukkannya burungku ke dalam mulutnya. Kusuruh ia bervariasi untuk menjilati batang kemaluan dari ujung lubang kemaluan sampai buah pelirku.

Kira-kira 15 menit Eunice mengulum burungku sambil kupegang kepalanya dan kadang kupelintir puting susunya sambil tiduran di lantai dan memelukku erat. Kuarahkan batang kemaluanku menuju lubang kenikmatannya yang masih basah, dengan sedikit tekanan, terasa secara perlahan batang kemaluanku memasuki lubang kenikmatannya yang hangat dan ketat. Terasa batang kemaluanku diremas-remas oleh otot-otot liang senggamanya. Kuayun maju mundur dan diikuti gerakan pinggul Eunice yang juga mengayun-ayun, kucium bibirnya yang indah, gerakanku dan Eunice semakin menggebu.

Kita berdua saling menindih dan berguling tanpa terlepaskan lagi, gerakan demi gerakan antara pinggul Eunice dan pinggulku terus bergulir, dan akhirnya terasa ujung batang kemaluanku mulai berdenyut-denyut tak tertahankan, "Eeeuchh...", kuteriakkan perasaanku yang tertahan selama ini, bersamaan teriakan klimaks Eunice yang semakin membuatku terangsang, kurasakan cairan spermaku memancar keluar dengan kerasnya dan terasa jepitan yang mengeras di sekeliling batang kemaluanku, serta getaran mengejang dari badan Eunice. Akhirnya kita berdua terkulai lemas, kuakhiri permainan cinta ini bersamanya dan dia mulai memakai kembali pakaian kerjanya dan minta izin untuk pergi ke kamar mandi yang tidak jauh dari kamarku.

Kudekati Lily dan Jacelyn setelah Eunice meninggalkanku sehingga aku leluasa menempatkan wajahku persis di depan liang kemaluan Lily, kulebarkan kedua pahanya, kusibakkan bulu halus warna hitam dan kutempatkan lidahku yang mulai basah persis di lubang kenikmatan Lily, kumasukkan sedikit, kugerak-gerakkan ujung lidahku, Lily menggelinjang, kemudian dengan tiba-tiba kusapu lidahku ke atas, ke arah biji kecil di atas lubang nikmat itu, Lily memekik, "Ooouuhhh.. Joeee.. ssshh..." erangnya sambil terus mencium Jacelyn. Lututku sedikit sakit kerena bersimpuh, kemudian dengan lidah masih menyapu permukaan kemaluan Lily, kumiringkan posisi badanku sehingga lonjoran kedua kakiku menuju arah Jacelyn berada, terasa sekali barangku manggut-manggut memukul-mukul perutku.

Kedua tangan Lily menjambak rambutku, kuputar-putar lagi ujung lidahku di lubang kecil kemaluan Lily, kumainkan biji kecil di atas lubang kenikmatan Lily dengan tangan kiriku sedangkan tangan kananku meremas-remas buah dadanya. Lily, semakin keras menggelinjang, kadang kedua kakinya menjepit kepalaku. "Joeee... ooohh.. lebih keras Joeee.. ssshh". Tiba-tiba terasa ada yang mengenggam batang kemaluanku, dan sesuatu yang hangat dan lembut menyapu kepala kemaluanku. Ternyata Jacelyn tak mampu hanya berdiam diri. Aku semakin giat memainkan lidahku di sekitar kemaluan Lily, begitu juga dengan Jacelyn yang sedang berusaha memasukkan seluruh batang kemaluanku ke dalam mulutnya, aku yakin Jacelyn tidak berhasil walaupun kurasakan ujung kepala kemaluanku menyentuh tenggorokan Jacelyn.

"Sekarang Joeee.. ohhh.. sekarang Joeee..." kata Lily sambil menjauhkan wajahku dari barangnya, kemudian Lily tiduran di atas sofaku dengan kaki kanan dinaikkan di sandaran sofa dan kaki kirinya menjulur ke lantai. Aku masih belum bisa bangun karena Jacelyn masih sibuk dengan barangku. Akhirnya kuraih kepala Jacelyn dan mengangkatnya, kukecup bibirnya yang berlepotan air liurnya, kumainkan lidahku di dalam mulutnya, kuremas buah dadanya, Jacelyn memejamkan matanya. Cantik juga si Jacelyn ini, kataku dalam hati.

"Ayo Joeee.. cepat.. sini", Kudengar Lily memohon kehadiranku. Melihat posisinya yang demikian, aku merasa kurang enak, kemudian kuhampiri Lily, kuraih tangannya untuk berdiri, kemudian kuputar badannya agar membelakangiku dengan lutut di atas sofa tapi masih belum pas, entah karena pahanya kepanjangan atau sofaku ketinggian, maka kulebarkan lagi kedua pahanya dengan demikian posisi liang kenikmatannya agak rendah.

Kuarahkan ujung barangku ke lubang kenikmatan Lily, kutekan, agak susah, kuambil air liurku dengan dua jariku, kuusapkan di sekitar liang senggama Lily, kutekan lagi batang kemaluanku, masuk sedikit kepalanya. "Ssshh.. pelan-pelan Joeee.." Kata Lily. Aku tak menjawab, hanya kutekan lagi batang kemaluanku, masuk sudah semua kepala barangku, Lily mendesah lagi. "Ooohh.. Joee.. ssshh.. aaahh" Kutarik keluar seluruh batang kemaluanku hanya kepalanya saja yang sedikit menempel di permukaan kemaluan Lily, kumajumundurkan batang kemaluanku, agar semakin licin, itu membuat Lily semakin tak bisa diam.

Kemudian aku dipeluk dari samping oleh Jacelyn. Mulutnya menciumku pipiku, kemudian lidahnya dimainkan di telingaku, aku merinding geli. Tangan kiri Jacelyn memainkan pangkal barangku sambil mengusap-usap bulu lebat barangku sedangkan tangan kanannya mengusap-usap bongkahan pantatku. Nikmat sekali rasanya. Akhirnya setelah aku merasa benar-benar licin barangku, maka kutekan terus, kutekan lagi. Lily tersentak, "Joeee.. pelan-pelan Joeee.. aaahh" Aku tidak perduli kutekan terus, Aku tak tahan, aku hampir keluar, kutarik setengah barangku, kemudian dengan tiba-tiba kutekan seluruh barangku sambil tanganku menarik pinggul Lily.

Lily berteriak "Aaahhh.. sakiiitt.." Jeritnya. Kutarik seluruh barangku dari dalam liang kemaluan Lily, kuminta Jacelyn untuk mengocoknya. "Kocok Jasss.. yah.. begitu.. yah.. oohhh.. terus Jass.. oohhh" Sofaku berlepotan air nikmatku, aku tak peduli. "Aku belum dapat Joe.." Protes Lily sambil berbalik ke belakang dengan meringis karena liang kenikmatannya masih terasa perih. "Bikin barangku berdiri lagi" Tantangku pada Lily. Jacelyn membersihkan tangannya yang berlepotan air nikmatku dengan celana dalamku. Kemudian Jacelyn membersihkan barangku dengan tangannya "Uuh, lengket sekali Joe", kata Jacelyn, sambil mendekatkan mulutnya ke arah barangku. Aku merasa ngilu sekali. Aku ingin protes tapi, kubatalkan. Aku minta Jacelyn untuk menyetop kegiatannya.

Kemudian aku telentang di atas lantai karpet, kuminta Lily untuk menghisap lagi barangku. Sedangkan Jacelyn kusuruh untuk mengangkangkan liang kenikmatannya di atas wajahku. Kusapu liang kemaluan Jacelyn, dengan lembut sambil berusaha untuk melihat wajahnya. Wajah Jacelyn penuh kenikmatan "Ssshh.. uuuhh", rintihnya. Sedangkan Lily menaikturunkan mulutnya terhadap barangku, setelah dia yakin barangku sudah cukup keras, maka Lily memasukkan barangku dari atas, terasa sedikit seret karena kemaluan Lily sudah mulai kering. Kuminta Lily untuk membasahi lagi barangku dengan air liurnya.

Setelah itu aku benar-benar merasakan gesekan yang begitu nikmat dari liang kenikmatan Lily terhadap batang kemaluanku. Tanganku meraih kedua buah dada Jacelyn yang menggeleng-gelengkan kepalanya, karena lidahku membuat nikmat tak terkira padanya. Gerakan naik turun Lily semakin cepat, "Aaacchh.. aaahh" Rintihnya semakin cepat lagi, semakin cepat lagi dengan sedikit kasar kudorong tubuh Jacelyn agar telentang dengan kemaluannya berada ke arahku, kutusuk-tusukkan dua jariku ke dalam liang kenikmatan Jacelyn. Jacelyn mencabutnya, katanya sakit. Kemudian hanya satu jari saja yang kutusuk-tusukkan.

"Terus.. Joeee.. terus.. oh.. oh.. terus.. oh .. oh.." Rintih Jacelyn. Bijiku terasa sedikit sakit karena hantaman pantat Lily yang semakin gila naik turun di atasku. "Aku.. aku.. aaacch.. aku.. keluarrr.. Joeee.. ooohh" Rintihnya. Akupun keluar, walaupun tidak banyak lagi air maniku hanya nikmat sedikit ngilu kurasakan pada barangku yang masih di dalam liang kenikmatan Lily. Jacelyn pun menarik tanganku agar jariku semakin dalam menusuk liang senggamanya. "Aaahh.. ssshh" Desis Jacelyn pada puncaknya. "Kenapa kau biarkan aku keluar di dalammu?" Tanyaku pada Lily. Lily tidak menjawab karena masih mencoba merasakan sisa-sisa kenikmatan. Tak lama direbahkan tubuhnya di atasku sehingga aku dan Lily saling mendekap. Hening beberapa waktu. Kurasakan barangku semakin kecil di dalam liang kenikmatan Lily, semakin kecil lagi, kecil lagi, kemudian keluarlah barangku dari dalam liang kenikmatan Lily, sempat kurasakan geli yang nikmat seketika bersamaan keluarnya barangku dari Lily, begitu juga kudengar desis lemah dari mulut Lily. Aku sudah merasa berat dengan tubuh Lily, dengan perlahan kugeser tubuhnya ke samping.

Setelah Lily dan Jacelyn roboh tidak berdaya, kemudian datanglah Eunice dan aku menanyakan kenapa dia lama sekali dan dia memberitahuku bahwa dia sedang masturbasi di kamar mandi sewaktu aku sedang bercinta dengan Lily dan Jacelyn, tetapi dia belum mendapatkan klimaksnya karena dia tidak bisa puas hanya dengan masturbasi. Kemudian Eunice mendekatiku.

Kedua tanganku merogoh dan meremas pahanya sampai ke atas, perut dan dada. Kuangkat roknya tinggi-tinggi. Badannya benar-benar putih dan mulus. Aku belum pernah melihat pemandangan seperti ini! Aku berlutut mencium paha dan perutnya. Dia benar-benar tidak berdaya. Kulepas zipper di punggungnya, dengan sekali angkat, lepas rok kerjanya dari tubuhnya. Kulepas BH-nya, kujilati payudaranya yang montok putih. Kuhisap puting susunya yang masih perawan, warnanya coklat muda. Tanganku meremas susu satunya dan menggerayangi tubuhnya yang halus. Kutarik CD-nya sampai ke bawah kaki. Kujilati liang kenikmatannya dan kugelitik klitorisnya. Rambut kemaluannya halus, liang kewanitaannya merah muda dan harum baunya. Kujejal-jejalkan dan kukorek-korek lidahku di dalam liang kewanitaannya. Cairannya banyak, aku lahap semua. Sementara itu tanganku meremas-remas pantatnya yang putih padat.

Dengan sekali angkat dia sudah berada di atas ranjangku dan tiduran di sebelah Lily dan Jacelyn yang sedang tiduran karena kelelahan. Kedua pahanya mengangkang, sementara tubuhku berdiri di antaranya. Cepat-cepat kubuka baju, celana, dan CD-ku. Kita sekarang sama-sama telanjang. Kakinya terus kuatur melingkar di pinggangku. Batang kemaluanku kuarahkan ke liang kewanitaannya. Dia tak mampu menolak lagi. Dengan mata was-was, dia memandang batang kemaluanku yang mendekati liang kewanitaannya. Kumasukkan kepalanya dulu dan kuayun pelan-pelan. Dia merinding dan tambah ngos-ngosan. Kusodokkan lebih dalam lagi, dan kurasakan selaput daranya robek. Dia menjerit sambil mengeratkan pegangan tangan dan kakinya. Aku berhenti dulu memberi kesempatan padanya untuk bernafas.

Kemudian kuayun pelan-pelan sambil terus kumasukkan batang kemaluanku sampai mentok. Dia melihat selangkangannya dengan takjub, baru menyadari kalau batang kemaluanku sudah terbenam di liang kenikmatannya. Selangkanganku menempel erat dengan liang kewanitaannya yang putih. Kuayunkan batang kemaluanku pelan-pelan. Matanya yang sipit semakin bertambah sipit karena merem keenakan. Kuayunkan batang kemaluanku lebih cepat, mulutku menghisap payudara dan bibirnya bergantian, tanganku meremas erat pinggul dan pantatnya.

Kini di hadapanku terdapat tubuh putih mulus menggeliat-geliat menahan desakan tubuhku. Aku merasakan akan keluar. Kutahan dengan cara rileks, kutunggu dia sampai puncak. Beberapa saat kemudian aku melihat wajahnya berubah menahan ngilu yang amat besar. "Aduh.. aduh.." katanya. Kupercepat ayunan batang kemaluanku sampai ranjangku berderit. Kemudian aku merasakan lahar panas menyemprot di dalam liang kewanitaannya, tepat di mulut rahimnya. Dia menjerit sambil mencakar pundakku. Badanku kejang, "Aduh Eunice.." kataku dalam bahasa Inggris tentunya, aku pun keluar. Kurasakan juga cairan hangat dari dalam liang kewanitaannya membasahi batang kemaluanku dan selangkangan kami berdua. Nikmat sekali, jauh lebih nikmat dari kekasihku di Jakarta.

Aku kemudian tidur-tiduran karena baru saja memuaskan 3 wanita sekaligus, namun istirahatku mendapat gangguan karena aku merasakan bahwa Jacelyn mulai menciumi dadaku dan perutku yang lumayan besar. Disedotnya puting susuku yang kanan sambil diremasnya dadaku yang kiri. "Eehhh.. nikmatnya", lenguhku. Lalu gantian hal yang sama dilakukannya pada dada kiriku. Kuangkat Jacelyn dan kami pun berdiri berpelukan. Jacelyn masih asyik mengulum dan menciumi sekujur dada, punggung serta leherku sambil mengeluarkan suara yang tak beraturan dari mulutnya, "Hhhmm.. aaahh.. mmm.. aahhmm.. aaahh.. aku suka wangi parfummu Joe", katanya, "Aku sudah lama menginginkan dirimu", katanya sambil terus menjelajahi dada, leher dan kadang turun ke perut. Saat itu aku menciumi rambutnya sambil mengelus dadanya, sambil mulai memainkan lidahku di puting susunya. Kuangkat dagu Jacelyn yang sedang asyik menjelajahi dadaku.

Kami pun bertatapan, kulihat nafas Jacelyn mulai menderu dengan dadanya naik turun dan kedua payudaranya terlihat mekar dengan indahnya. Sambil kutatap wajahnya, kuelus-elus lembut kedua payudaranya dengan gerakan memutar tanpa menyentuh kedua putingnya. Mulutku mulai menciumi mulutnya dan perlahan-lahan turun ke bawah ke dagu, terus kujilati lehernya, terus ke samping leher dan kukulum pangkal lehernya bagai menggigit hamburger sambil lidahku aktif menari-nari, lalu aku bergeser ke bawah telinganya, daun telinganya kujilati sambil kutekan lubang telinganya, kukulum daun telinganya dan kugigit halus sambil kutarik-tarik. Jacelyn hanya bisa mendesah-desah sambil tangannya meremas punggung dan kemaluanku dari balik celanaku.

"Aaah geliii.. eeenaaak.." katanya. Kedua tanganku masih asyik mengelus kedua payudaranya dengan gerakan memutar dan kadang meremas kedua payudaranya tetapi putingnya tetap tidak kusentuh. "Ayo dong mainin putingnya.." rengeknya manja dengan berusaha menarik kedua tanganku. "Belum waktunya sayang.." kataku sambil mengelus dadanya berputar, tetap menghindari kedua putingnya, sambil kembali kupagut bibirnya. Jacelyn pun memeluk leherku dan berkonsentrasi menikmati French Kisses kami untuk kesekian kalinya.

Wajahku turun sambil terus menciumi pipi, dagu, turun ke leher. Jacelyn menarik kepalanya ke belakang sehingga dapat kunikmati leher jenjangnya dengan lebih leluasa, lanjut turun ke bahu, dada sambil menghindari puting susunya, ke perut, lidahku menjilati sekitar perut dengan melingkar dan akhirnya kujilati pusarnya. "Aaaah.. geeliii..." erang Jacelyn yang menikmati bibir dan lidahku. Kedua tanganku mengelus lutut hingga pangkal pahanya dan terus naik turun memberikan rangsangan yang semakin meninggikan sensasi yang dirasakan Jacelyn.

Aku berlutut sambil menengadah ke atas, kutatap mata Jacelyn yang nampak mulai liar bernafsu. Aku mundur beberapa langkah dan menatap sekujur tubuh indah yang ada di hadapanku. Tak terasa beberapa detik berlalu.
"Kita ke ke ranjang yuk.." kata Jacelyn sambil melangkah ke arahku.
"Ntar deh di sini dulu", bisikku.
Dia pun berhenti dan kembali berdiri tegak.
"Ngadep ke sini dong sayang.." kataku, dia pun berputar sambil tersenyum menggoda.
Kubilang, "Kita mulai lagi yachhh.."

Jacelyn pun berputar-putar perlahan, tangannya bergerak meremas kedua payudaranya lantas naik dan kedua tangannya memanjang tinggi di atas kepalanya dengan kedua punggung tangan disatukan. "Kamu suka Joe?" tanyanya sambil tersenyum menggoda. Jacelyn memandangi batang kemaluanku yang telah berdiri perkasa di dalam CD-ku. "Hmm punyamu sudah tegang tuh Joe", kata Jacelyn dalam bahasa Inggris sambil mendelikkan matanya yang sudah besar karena melihat batang kemaluanku yang sudah berdiri dengan tegak menantang.

Kudatangi Jacelyn sambil terus menatap matanya, kutarik dan kududukkan dia di ranjang sambil kubuka pahanya. Kemudian aku berlutut di hadapannya, kutatap mesra kedua matanya, lalu kutatap kedua payudaranya dan kutanyakan, "Gimana udah siap sayang..?" "Yah, dari tadi juga udah siap.." jawab Jacelyn tersenyum senang sambil menggelinjang. Kuciumi bibirnya, lidah kami saling menari-nari. Kadang kusedot lidahnya, kadang kugigit halus lidah bawahnya sambil kepala kami bergerak ke kiri ke kanan bergantian, kadang keluar suara aneh yang erotis, "Preeet.. preet.. mmmgghh.. mmm", dari bibir kami yang saling menyedot keras.

Kembali kedua tanganku meremas dan mengitari payudaranya dengan tetap menghindari kedua puting susunya. Kuarahkan mulutku ke dadanya, kukitari dada kanannya, kujilati keliling dada kanannya sambil kucium halus dan kuseret bibirku di atas dadanya. Hal yang sama kuulang di dada kirinya. Kutatap mata Jacelyn, lalu perlahan kuarahkan bibirku ke puting kanannya, kubuka bibirku, lidahku pun terjulur keluar dan menyapu halus puting kanan Jacelyn. Jacelyn yang telah lama menantikan kenikmatan ini melenguh panjang, "Oooaaahh.. ooohhh.. enaaak.. geeeliii.. oooh Joeee.."

Kemudian kujilati perlahan puting kanannya, "Eeeehh.. mmm.. ehmmm..", puting kanannya berdiri tegak. Kupindahkan bibirku ke puting kirinya, kembali kujilat halus, Jacelyn pun melenguh panjang, "Eeehh.." Kucium dada kirinya sambil kusedot puting kirinya dan kuputar lidahku, kadang naik turun merangsang puting kirinya dan tak lama kemudian saat aku asyik mengulum puting kirinya, punggung Jacelyn terangkat melengkung dan bergetar mengejang sambil berteriak dengan nada yang tinggi "Eeeaaaiiih.." lalu tertahan sebentar dan turun lemas. Rupanya Jacelyn mampu mengalami orgasme hanya dengan rangsangan di payudaranya.

Tanpa henti terus kukulum puting kirinya, yang sangat tegang, lalu kukulum puting kanannya sambil meremas dada kirinya. Lenguhan Jacelyn sudah tidak karuan. Rupanya puting adalah salah satu daerah paling sensitifnya, dan aku pun senang menikmati dada yang montok, indah, kenyal dan kencang berwarna pink kecoklatan di sekitar putingnya. Terus kunikmati kedua buah dada Jacelyn, kadang satu persatu, kadang bergantian kiri kanan sambil kugelengkan kepalaku, tak lupa kuciumi belahan dadanya dan kujilat. Nikmat sekali melihat Jacelyn puas, dan nampaknya ia mulai menuju klimaks lagi. Tangan kananku turun, kususuri perut, kuusap, turun ke rambut kemaluannya, lalu kukitari kemaluannya dengan mengelus sekitar pangkal pahanya. Terus kuelus dengan telapak tangan naik turun di atas kemaluannya, lalu ujung jari tengah memutar di pinggir kemaluannya.

Setelah puluhan putaran, sementara Jacelyn mulai bergetar dan menggoyang pinggulnya, ujung jari tanganku bergerak naik turun di atas kemaluannya dari rambut kemaluan hingga anusnya, naik turun berkali-kali. Tak lama kemudian tubuh Jacelyn bergetar dan makin mengejang. Tidak ada gerakan yang kuhentikan, malah jari tanganku mencari-cari klitorisnya yang kutahu akan semakin meningkatkan sensasi orgasmenya. Akhirnya kutemukan klitorisnya, kutekan dan kuelus lembut dengan ujung jari tengahku.

'Aaahhh... aaahh.. ampuuun Joeee.." teriak Jacelyn. Ciuman di puting maupun elusan di klitorisnya tidak kuhentikan, agak lama juga Jacelyn berteriak, kadang mendesah, melenguh hingga akhirnya tubuhnya kembali lemas dengan nafas yang tersengal-sengal. "Gila kamu Joe, sudah dua kali aku klimaks, padahal burungmu belum bertamu ke sarangku", katanya dalam bahasa Inggris dengan logat Singapore. Kuhentikan ciumanku, kutatap wajahnya, "Sabar aja sayang.. itu baru permulaan kok.." lalu kuciumi belahan dadanya, turun ke perut, ke rambut kemaluannya, terus ke kewanitaannya, pangkal pahanya, kembali ke kewanitaannya. Jacelyn membuka pahanya lebih lebar sehingga aku dapat lebih leluasa menikmati liang senggamanya. Kemaluannya yang putih dengan bibir yang pink kecoklatan kembali tertutup rapat. Kuciumi, lalu dengan lidah kubelah (bagai membelah bibir mulut yang tertutup), terbukalah bibir kenikmatannya. Kuciumi sambil kujilati, kadang naik turun, kadang menyamping kadang melingkar, lalu aku konsentrasi menjilati klitorisnya yang kecil tapi tampak tegang mengeras.

"Uuuhh.. aaahh.." Jacelyn melenguh, lalu giliran kedua bibirnya yang kujilati sambil kadang kukulum dan kusedot sampai keduanya memerah, lalu kujilati lubang kemaluannya yang sudah sangat basah, memutar kanan kiri dan kadang kutusuk-tusuk dengan ujung lidahku yang sengaja kubulatkan, kutusuk, tekan dan kuputar di lubang kenikmatannya dan tak kuperhatikan lagi lenguhan Jacelyn karena terus terang aku pun terangsang memberikan pleasure yang luar biasa pada Jacelyn. Tangan Jacelyn mulai mendorong kepalaku ke arah lubang kenikmatannya sambil pinggulnya bergoyang dengan desah yang tak beraturan lagi, "Uuuhh.. aaahh.. eeenaaak.. aaahh..."

Akhirnya Jacelyn pun mencapai klimaks sambil menarik kepalaku dan dibenamkannya ke liang kemaluannya sambil didekapnya pahanya dengan cukup kencang. Terpaksa aku menggapai-gapai udara yang sangat tipis, lalu tubuh Jacelyn kembali mengejang, tertahan lalu terjatuh. Aku terus menjilati cairan bening yang mengucur dari liang senggamanya sambil kadang kutelan nikmat. Telunjukku kujilat dan kubasahi dengan air liurku, lalu kumasukkan ke dalam lubang kewanitaannya, kugerakkan maju mundur, memutar, lalu kubengkokkan dengan maksud merangsang G-spot Jacelyn. Rangsangan maju mundur terus kuberikan sambil tangan kiriku meremas dan mengelus buah dada kanan dan lidahku mengulum dan menjilati klitorisnya.

"Joee.. cepaaat.." lenguh Jacelyn yang kujawab dengan memasukkan jari tengahku. Sekarang ada dua jari yang keluar masuk ke dalam liang kenikmatan Jacelyn. Gerakannya terus berirama, tidak cepat. Beberapa menit kemudian kulihat perutnya menegang dan kupercepat gerakan jari tanganku, "Te.. te.. tee.. ruuus.. cepaaat", desah Jacelyn, makin kupercepat gerakan jari tanganku hingga akhirnya Jacelyn klimaks yang sangat tinggi sensasinya karena kedua jariku terasa diurut-urut dan diremas dinding kemaluannya dengan kerasnya. Aku tidak menghentikan kegiatanku, maka sensasi itu bertahan cukup lama. Setelah itu terus kujilati dan kutelan cairan yang keluar dari liang kenikmatan Jacelyn hingga bersih. Setelah orgasme Jacelyn berlalu, kurebahkan kepalaku di dadanya.

Setelah itu, Lily dan Eunice terbangun dan memberikan senyum kepadaku dan mereka bertiga berebutan menciumku dan memintaku untuk menyimpan rahasia ini supaya orang-orang di kantor tidak mengetahuinya termasuk suami dan kekasih mereka. Aku menyetujui untuk menyimpan rahasia mereka dan tentunya aku tidak akan melupakan saat-saat lucky sebelum aku kembali ke Jakarta untuk urusan bisnis. Mudah-mudahan hal ini bisa berulang lagi dan bagi para wanita yang ingin mengenal diriku, anda bisa mengirim E-mail kepadaku.


TAMAT

Posting Komentar

cerita atah-atah

About This Blog

  © Blogger template Noblarum by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP