Top Comment :

Iparku yang kesatu

Selasa, 08 Desember 2009

Entah dapat durian runtuh darimana, tiga dari iparku, pernah bermain cinta denganku. Padahal aku bukan termasuk tipe pengejar cinta. Walaupun pengalaman sex-ku cukup lumayan banyak, Tapi aku bukan sex maniak. Ini adalah seri percintaan dengan ipar iparku yang kalau aku punya waktu akan aku tuliskan untuk anda, dan sekedear melepaskan uneg uneg hatiku, karena selama ini cerita ini hanya kupendam untuk diriku sendiri.

Aku biasa memanggilnya Mbak Rina (samaran), wajahnya tidak terlalu cantik, tetapi wajahnya lembut dan tubuhnya putih langsing. Dia adalah istri dari kakaknya istriku. Usianya sekitar 45 tahunan, kedua anaknya kuliah di luar kota, sedangkan suaminya mempunyi pekerjaan yang mengharuskan dia jarang ada di rumah. Dia tinggal di Jakarta, sedangkan aku di kota S, namun demikian aku sering ke rumahnya karena hampir tiap bulan aku dinas ke Jakarta. Atas permintaan istri, aku selalu diminta untuk mampir untuk sekedar memberikan oleh-oleh untuknya.

Hal ini berjalan bertahun tahun, walaupun aku lebih sering ketemu dengan Mbak Rina tanpa di dampingi suaminya, tetapi kami tidak pernah melakukan hal yang tidak sopan. Apalagi perbuatan, berpikir ke arah sana pun aku tidak pernah. Hingga suatu hari, peristiwa itu terjadilah.

Sore itu selesai rapat dinas di Jakarta, aku segera menelpon ke Mbak Rina bahwa aku membawa titipan dari istriku dan kalau Mbak Rina tidak kemana-mana aku akan mampir ke rumahnya. Setelah mendapat konfirmasi, segera aku kembali ke hotel untuk mengambil kerupuk mentah titipan istriku dan tasku untuk check out. Memang aku merencanakan dari rumah Mbak Sri aku mau langsung ke Pulogadung untuk langsung pulang ke kotaku naik Bis malam.

Aku sampai di rumahnya yang asri dan luas jam sekitar 17.00. Tidak seperti biasanya, tampak rumah sedang keadaan setengah dibongkar, dan terlihat beberapa tukang sedang berbenah untuk pulang. Aku disambut dengan gembira dengan ciuman pipi (biasa kami lakukan di antara keluarga).

"Wah Dik Ton, maaf ya rumah masih berantakan, mau direnovasi dan baru tadi Mas Slamet (suaminya) berangkat, sayang nggak ketemu ya." ujarnya.
"Iya Mbak, hampir setengah tahun saya nggak jumpa sama Mas Slamet." balasku.
Kami terlibat pembicaraan yang hangat dan akrab, sampai hari mulai gelap dan Mbak Rina menyuruhku mandi.
"Mandi dulu Dik, di kamar saja, soalnya kamar mandi satunya dibongkar. Disana sudah saya sediakan sarung dan handuk bersih."
"Ya Mbak."

Aku segera ke kamar mandi utama, sungguh luas kamar mandinya. Walaupun aku sering mandi di rumah ini, tetapi baru kali ini aku mandi di kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya.Selesai membersihkan diri, masih dalam keadaan telanjang aku gosok gigi menghadap ke cermin. Tanpa sengaja mataku melihat sesuatu yang aneh menyelip di belakang cermin. Dengan penuh rasa penasaran kuambil barang itu, dan aku terkesiap ternyata barang itu adalah penis buatan (dildo), segera barang itu kukembalikan ke tempatnya tanpa merubah posisi.

Aku baru sadar bahwa Mbak Rina di balik wajahnya yang lembut dan polos adalah tetap seorang wanita yang membutuhkan pemenuhan biologis. Aku yakin barang itu adalah pemberian suaminya, sebab sangatlah tidak mungkin kalau Mbak Rina menerima dari orang lain atau membeli sendiri. Aku pun jadi teringat cerita istriku bahwa sudah lama Mas Slamet mengalami gangguan sex, karena penyakit yang dideritanya.

Membayangkan Mbak Rina menggunakan dildo tersebut, aku jadi terangsang dan entah dari mana ide ini datang bahwa aku bermaksud untuk mengajak bercinta Mbak Rina malam ini. Ya. Malam ini aku harus menginap disini. Sempat kuelus-elus penisku, yang sudah terangsang betul, tapi tidak sampai muncrat, karena aku masih punya tujuan yang sangat kurahasiakan. Kupakai sarung dan kaos pinjaman tanpa CD.

Tidak berapa lama Mbak Rina mengajakku makan malam, dia masih belum tahu maksud jahatku. Kulihat pembantunya yang masih muda menyiapkan segalanya. Di meja makan aku mulai melancarkan strategi yang sudah kususun dengan rapih.
"Mbak, saya malam ini sudah nggak dapat jatah di hotel, harusnya malam ini saya pulang, tapi saya capek. Apa boleh nginep di sini..?" tanyaku.
"Lho saya kan sudah bilang dari dulu kalau dinas itu nggak usah nginep di hotel, nginep sini aja. Ya tentu saja boleh. Cuman gimana ya, kamar anak-anak sedang dibongkar." ujarnya.
"Nggak apa-apa Mbak, saya tidur di kursi saja."

Selesai makan malam, kami ngobrol berdua sambil nonton TV, sengaja pembicaraan kuarahkan ke hal-hal yang nyempet-nyrempet. Kadang Mbak Rina tertawa renyah, kadang wajahnya tersipu-sipu malu. Setelah beberapa lama dia mulai akrab berbicara tentang sex, dan aku menduga birahinya juga bangkit. Tetapi aku masih ragu-ragu, bahkan aku tidak berani untuk memulai.

"Kalau Mas Slamet lagi pulang, semalem bisa dua kali tiga kali dong Mbak. Ngrapel kan..?" kataku pura-pura.
"Lho.., Dik Sri (istriku) apa nggak pernah cerita..? Mas Slamet itu sudah agak lama impoten. Jadi gimana lagi. Lagian saya kan udah umur, anak-anak udah gede-gede." katanya.
"Maaf Mbak saya enggak tahu, tapi siapa bilang sudah berumur..? Mbak masih cantik, masih sexy. Terus gimana kalau lagi pengen..?" aku mencoba merayu.
Tanpa terasa penisku mulai mengeras. Karena aku tidak memakai CD, maka burungku mencuat di bawah sarung, dudukku segera kuperbaiki untuk menutupi tonjolan sarungku. Tetapi terlambat, Mbak Rina melirik ke sarungku, wajahnya tampak memerah. Aku tidak tahu apa yang ada di balik batinnya.

"Sudah ah, saya mau tidur, sebentar saya ambilkan bantal ya..?" dia berdiri masuk ke kamar dan mengambil batal serta selimut untukku.
"Selamat tidur ya, besok mau dibangunkan jam berapa..?"
"Jam lima Mbak."
Aku sangat menyesal, usahaku yang tadinya kuyakini dapat berhasil ternyata gagal total. Aku pikir aku terlalu ragu-ragu, terlalu penakut.

Satu jam telah berlalu, tapi aku tidak berhasil memejamkan mataku. Pikiranku masih tertuju pada Mbak Rina. Akhirnya kubulatkan tekad melaksanakan rencana lanjutan. Aku harus berhasil. Sambil meneteng bantal, dengan berdebar-debar kuketok pintu kamarnya. Tidak ada jawaban. Kuketok lagi kamarnya dengan agak keras, kutunggu. Akhirnya terdengar anak kunci yang diputar dan pintu kamar terbuka.

Di depanku berdiri seorang bidadari yang memakai daster tidur yang tipis, tergantung dengan tali kecil di pundaknya yang putih mulus. Hampir aku tidak tahan menahan gejolak birahiku, tetapi kutahan dan aku berusaha bersikap wajar tanpa dosa.
"Sorry Mbak, saya nggak bisa tidur. Banyak nyamuk di luar, boleh saya tidur di dalam..? Di lantai juga nggak apa-apa." kataku.
Dia tidak berkata apa-apa, mungkin dia merasa tidak enak kalau menolak.

Aku segera masuk kamarnya dan meletakkan bantal di bawah tempat tidurnya, dan menggeletakan badan di sana. Mbak Rina terlihat salah tingkah, dia tidak segera tidur tapi masih mondar mandir.
Akhirnya dia berkata, "Dik Ton tidur di atas saja, saya nanti di pinggir sini."
"Terima kasih Mbak."
Aku segera pindah ke tempat tidurnya, dan dia sendiri mengambil tempat di pinggir dan membelakangiku.

Kupandangi pundaknya yang putih mulus, pinggulnya, ingin rasanya aku memeluk dan membelainya, namun aku tidak berani. Lama kami berdiam diri, walaupun aku yakin dia belum tidur. Kuberanikan diriku untuk bergeser mendekat, kumiringkan tubuhku menghadap ke punggungnya, jarak kami hanya beberapa centimeter. Walaupun kami tidak bersentuhan, tapi aku yakin dia tahu kalau aku menggeser mendekati dia. Tidak ada reaksi darinya.

Dengan dada yang berdegup keras aku memberanikan diri berbicara, "Mbak Rin, saya boleh memeluk ya..? Biar anget..!" sambil kupeluk dari belakang tubuhnya tanpa persetujuannya.
"Tapi meluk aja ya Dik Ton..!" jawabannya sungguh membuat hatiku plong.
Birahiku semakin tinggi, kemaluanku sudah tegang penuh tapi aku berusaha untuk tidak ceroboh. Kupeluk Mbak Rina dengan lembut tetapi tetap kujaga jarak agar kemaluanku tidak menyetuh tubuhnya. Kuelus tangannya, pundaknya dan kuremas jari tanganya, dia diam saja.

"Mbak Rin, kulitnya halus sekali ya. Tiap minggu ke salon ya Mbak..?" aku mulai merayu.
"Ah enggak koq, saya enggak pernah ke salon kecuali kalau potong rambut." jawabnya.
Suaranya sedikit bergetar. Dan aku makin yakin bahwa Mbak Rina mulai menikmati dekapanku dan elusan tanganku. Pelan-pelan kusingkapkan kain sarungku. Karena aku tidak memakai CD, maka burungku yang sudah terangsang dan tegang keras keluar dari sarangnya tanpa sepengetahuan Mbak Rina. Dekapanku ke Mbak Rina makin kuperketat, kemaluanku kutempelkan di pantatnya yang masih terbalut dengan dasternya yang tipis. Kurasakan denyut kenikmatan di sepanjang penisku.

"Dik Ton, ini apa koq keras banget di belakang..? Aku nggak mau lho kalau macem-macem..!" nadanya mengancam.
"Nggak apa-apa koq Mbak, aman. Biasa Mbak, Yuniorku ini nggak bisa dekat sama perempuan cantik. Apalagi sudah seminggu lebih isinya nggak dikeluarin, habis Sri lagi palang merah." jawabku berbohong.
Kutelusupkan tanganku ke bawah lengannya sehingga tanganku menempel pada buah dadanya. Di balik dasternya kurasakan dia tidak memakai BH.

"Kalau lagi pengen gituan gimana Mbak..?" tanyaku memancing.
"Biasanya Mas Slamet yang bantu, pakai tangan. Lama-lama terbiasa koq, nggak ada masalah."
"Kalau nggak ada Mas Slamet..?" kejarku.
"Ya udah, ditahan aja, nunggu dia pulang."
Ternyata dia tidak mau berterus terang soal dildonya. Dan aku pun tidak berani menanyakannya. Tanganku mulai mengelus-elus pangkal dadanya yang terbuka, dia diam saja, dan aku pun tambah terangsang. Tetapi berkat pengalaman sex-ku, aku mampu mengendalikan diri untuk tidak terburu. Justru tahapan demi tahapan kunikmati betul.

Kulepas tali daster yang ada di pundaknya sehingga buah dadanya separuh terbuka. Kupindahkan elusanku ke buah dadanya yang berukuran sedang. Ketika telapak tanganku melewati putingnya, kurasakan putingnya sudah mengeras, tapi gerakanku terhenti ketika tangannya menahan tanganku.
"Dik Ton, yang itu nggak boleh, nanti kebablasan, soalnya saya nggak tahan kalau tetek yang dipegang-pegang..!"
Kuhentikan elusanku, tapi tanganku tetap memegang buah dadanya, dan kelihatannya dia tidak keberatan.
"Kan ada aku Mbak. Nanti saya bantu dengan tangan atau lainnya."
"Nggak mau ah, nanti ketagihan jadi berabe. Apalagi kalau sampai ketahuan orang."

Dalam posisi kupeluk dari belakang, dia menggeser tubuhnya merapat kepadaku. Bersamaan dengan itu kusingkapkan dasternya ke atas, sehingga paha yang mulus sudah tebuka penuh dan membuatku kaget, ternyata dia tidak memakai CD. Kusesuaikan posisi ujung penisku agar dapat kuselipkan di belahan paha dekat kemaluannya. Kuelus-elus paha belakangnya sambil sedidikt kudorong kemaluanku ke depan.

Dia diam saja, dan usahaku menyelipkan burung di pangkal paha ternyata berjalan lancar, karena disamping cairan vaginanya sudah membasahi luar kemaluannya sehingga pangkal pahanya licin, juga karena dia sedikit membuka pahanya untuk memberi kesempatan padaku menyelipkan burungku utuh di antara paha atasnya. Penisku berdenyut nikmat sekali, tapi aku tetap terkontrol.

Tanganku mulai beraksi meremas buah dadanya dengan lembut, kali ini dia tidak menolak, bahkan tangan kirinya memegangi tanganku yang sedang meremas-remas. Kugigit-gigit pundaknya dan kujilat-jilat kupingnya. Dia mengelinjang kegelian, sehingga kemaluanku yang kejepit di pahanya yang licin semakin enak.

"Mbak.., saya jadi terangsang Mbak, gimana nih..?"
"Habis.. Dik Ton pake ngelus-ngelus segala sih. Ya sudah kalau mau dikeluarin, dikeluarin aja..!"
"Dimana Mbak..?" kataku menggoda.
"Disitu aja, nggak apa-apa."
"Kalau dimasukin dan dikeluarin di dalem boleh Mbak..?" aku makin terangsang.
"Nggak boleh..!" berkata begitu dia mulai menggesekkan kedua pahanya, sambil memaju-mundurkan pantatnya.

Penisku terasa dipelintir oleh daging kenyal yang licin, sehingga aku merasa lebih enak, tapi tidak cukup untuk membuatku ejakulasi.
"Jangan sekarang Mbak.., aku masih pengen yang lama, lagian saya nggak mau kalau keluar sendirian. Soalnya Mbak Rina sudah basah sekali. Kita sama-sama aja..!"
Kutarik pundaknya ke arahku, sehingga dia telentang miring, punggungnya menempel pada dadaku, lehernya berada di atas lengan kananku yang meremas-remas payudaranya. Sedangkan kaki kirinya melintang menindih di pinggangku yang masih dalam posisi miring menghadapnya, dengan demikian vaginanya terbuka lebar menghadap ke atas.

Batang penisku yang sudah basah oleh cairannya berdiri tegak dari belakang persis di depan vaginanya. Sementara tangan kananku meremas-remas, kuelus-elus bibir vaginanya bagian luar. Rambut kemaluan yang tidak telalu lebat telah basah merata. Mbak Rina memejamkan matanya, tapi napasnya memburu. Cukup lama aku dalam posisi itu, sengaja aku tidak menyentuh klitorisnya.

"Mbak dulu waktu masih sering main, suka posisi gimana..?" tanyaku.
"Nggak tau ah. Udah lupa..!"
"Pernah posisi kayak gini Mbak..? Dimasukin dari belakang..?" kugesek klitorisnya dengan ujung jariku sampai pangkal jari.
Dia mendesah panjang karena nikmat, dibukanya matanya dan menatap tajam kepadaku. Aku tersenyum tapi dia tidak membalasnya, bahkan menutup mata kembali.

"Saya masukin ya Mbak..?" rayuku.
Sebetulnya kalau aku mau, aku dapat dengan mudah memasukkan batang penisku ke dalam liang yang berlendir dan tebuka itu. Tapi tidak, aku cukup sabar dalam permainan sex, tidak hanya kali ini, dengan istriku bahkan dengan pacarku di kantor pun aku melakukannya dengan sabar. Dengan bercumbu lama aku dapat menikmatinya tahap demi tahap.

"Jangan Dik, Mbak nggak mau. Ditempel di luar aja..!"
Kutarik tangan kanannya dan kubimbing ke arah kemaluanku, dia tidak menolak, bahkan tangannya menekan penisku yang sudah maksimal ke arah vagina yang terbentang lebar. Dipilin-pilinnya, digosokkannya burungku di atas klitorisnya. Mbak Rina mendesis-desis sambil membuka matanya, tangannya terus menggosokkan penisku ke klitorisnya, matanya tetap menatapku sayu dan mulutnya mendesis desis.

Bersama dengan itu, penisku kutarik dan kumajukan dengan irama yang rutin, sehingga gesekan di atas klitorisnya makin membuat pinggulnya bergoyang. Dia mendesis dan merintih, lidahnya keluar menjilat bibirnya ke kiri dan ke kanan. Sebenarnya aku ingin mencium bibirnya, tapi posisiku kini sulit untuk melaksanakannya. Akhirnya di tengah rangsangannya itu, kumasukkan jariku di bibirnya. Dia menyedot dan menjilat jariku. Aku tambah terangsang. Dan dalam kenikmatan itu dia tampak terlena.

Kutarik kemaluanku agak ke belakang, kemudian dengan sedikit mengubah posisi pinggul dan pahaku, kuarahkan ujung penisku ke liang sanggamanya. Kudorong kembali burungku pelan-pelan, kali ini kurasakan jalannya licin dan tidak terasa gesekan dengan rambut. Makin dalam kudorong makin hangat dan panas menglilingi batang kemaluanku. Kini aku yakin bahwa burungku sudah masuk ke liang vaginanya. Mbak Rina masih keasyikan mengulum dan menjilat jariku, dan tidak menyadari bahwa batangku yang keras sudah jauh masuk ke dalam vaginanya, bahkan ototnya terasa mencengkeram dengan ketat.

Ketika menyadari hal itu, dia segera melepas jariku dari bibirnya, matanya membelalak ke arahku.
"Koq dimasukin Dik Ton..? Janjinya kan cuma di luar..!" nadanya memprotes, tapi bahasa tubuhnya tidak.
"Maaf Mbak, nggak sengaja, soalnya kepleset masuk. Biar di dalem sebentar ya Mbak..?" aku merayunya, sementara tangan kanannya masih memegang pangkal kemaluanku.
"Tapi jangan dikocok ya..! Aahh.., esst..!" dia memejamkan mata dan mendesis.
"Kenapa Mbak..?"
"Pokoknya jangan dikocok. Aku nggak mau..!"

Kupenuhi permintaannya. Dalam kehangatan liang senggama, kubenamkan penisku dalam-dalam tanpa gerak. Kuelus rambutnya dan juga bibirnya. Dalam kesenyapan tanpa gerak itu, kurasakan kedutan lemah dari dinding vaginanya. Lama-lama kurasakan vaginanya menjepit penisku dan menyedotnya.Dalam kenikmatanku kutatap wajahnya, dia masih memejamkan mata tetapi dahinya agak berkerut.
"Mbak.., jepitannya kuat sekali, nikmat sekali. Saya kocok dikit ya Mbak..?" aku memohon.
Dia tidak menjawab, bahkan jepitannya semakin mengencang.

Tiba-tiba ia merintih tertahan-tahan. Aku segera sadar bahwa Mbak Rina sudah hampir klimaks. Maka tanpa melepas penisku yang masih tertanam dalam vaginanya, kuubah posisiku menumpuk di atas tubuhnya. Kakinya tertekuk ke samping dengan kedua pahanya tebuka lebar, sehingga kemaluanku masuk sampai ke pangkalnya. Wajahnya hanya satu inci dari wajahku, tangannya sudah mendekapku, dia memandangku dengan sayu dan pasrah.

"Dik Ton, baru lima menit dimasukin koq saya sudah mau keluar ya..? Oh.., ssh.. ssh.., kau masih tahan lama..?"
Aku mengangguk, kuremas buah dadanya.
"Dikeluarin aja Mbak, aku belakangan nggak apa-apa koq."
"Tapi aku masih pengen lama."
"Nggak apa-apa Mbak, nanti Mbak bisa dua kali, aku masih kuat koq..!" kataku yakin karena aku masih dalam tahap awal.

Dari pandangan matanya dia kelihatannya pasrah, maka kuatur posisiku. Dengan bertumpu pada lututku dan kemaluanku masih terbenam, aku sudah siap untuk mengantarkannya ke fase puncak kenikmatannya. Tubuhnya menempel ketat dan tangannya memeluk erat punggungku. Kukocok liang vaginanya dengan pelan, kelaminku menggesek bibir dalam vaginanya, terasa nikmat sekali. Makin lama makin kuat aku mengocoknya.

"Oh.. oh.. sschh.., sschh.. aduh.. enak-enak sekali. Burungmu ngocoknya enak banget, memekku senut-senut. Aduh.., Dik Ton, aku sudah nggak kuat..!"
Mulutnya terbuka dan kubiarkan dia bicara sediri, aku pun sedang menikmati hal yang sama. Kutindih tubuhnya yang sudah berkeringat, paha kiriku kutempelkan pada paha kanannya dan paha kananku kutindihkan pada paha kirinya penuh, sehingga kami menempel penuh. Kulakukan ini karena aku yakin bahwa sebentar lagi Mbak Rina akan orgasme. Dengan posisi ini tentu saja aku tidak dapat mengocok tapi itu memang tidak perlu kulakukan lagi.

Vaginanya terbuka lebar, sementara kemaluanku amblas persis di tengahnya. Kuputar pinggulku dua kali, tiga kali.
"Eeghh.., eghh.., Dik aku keluar.. Eeghh... eghh..!" jarinya mencengkeram keras punggungku, kakinya mengejang dan pinggulnya diangkat tinggi-tinggi.
Ketika dia terkulai lemah, di bawah tindihanku kemaluanku masih tegak tertanam. Denyut orgasme di dinding vaginanya masih terasa nikmat. Kugeser tubuhku ke samping tanpa melepas kemaluanku untuk memberikan waktu kepada Mbak Rina istirahat. Kucium pipinya yang halus seperti sutra.

Kami berdua sudah dalam keadaan bugil bersama. Dan babak kedua kami mulai setelah masa istirahat yang cukup lama, Mbak Rina sudah mulai lagi bangkit nafsunya. Atas inisiatifku, posisi kami berubah, aku duduk bersandarkan tempat tidur dengan kaki lurus ke depan, sedangkan dia jongkok menghadap ke arahku, dengan buah dadanya persis di depan mulut. Sedangkan kepala penisku sedang digosok-gosokkan di klitorisnya, sementara dari mulutnya tidak henti-hentinya suara desah kenikmatan. Kuremas-remas susunya dang kuhisap-hisap putingnya, sedangkan tangan kirinya berpegangan pada ranjang di belakang kepalaku.

"Mbak.., dimasukin aja Mbak, saya udah nggak tahan gelinya..!"
Dia menurut dan membenamkan kemaluanku ke liang senggamanya yang sudah kemerah-merahan dan basah kuyup. Dikocoknya batangku dengan vaginanya tidak terlalu cepat. Kami saling berpelukan. Kutekuk sedikit kakiku dan kubuka lebar pahaku, sehingga penisku habis masuk ke dalam liang kenikmatannnya. Pangkal paha kami sudah basah dan becek, sehingga kocokkannya menimbulkan bunyi, "Ceprok..! Ceprok..! Ceprok..!"

"Dik.., burungmu enak sekali. Ssch.. ssch.., kayaknya udah mentok ya..? Saya jepit ya..? Enak Dik Ton..? Sssch.., ssch..?" katanya sambil wajahnya menengadah, kadang-kadang dia memagut bibirku.
"Iya Mbak.., nikmat sekali..!"
"Yang kejepit sebelah mana..?"
"Di pangkal Mbak. Aduh.., enak sekali.. dijepit sambil diputer Mbak..!"
Dia menurut, memutar pinggul sambil menjepit. Pada saat itu, ganti aku lah yang mengocok dari bawah.

"Seerr... seerr..!" kenikmatan di batang kemaluanku semakin menjadi-jadi.
Kuelus pantatnya, dan ternyata lendirnya sudah membasahi dekat anusnya. Kuelus-elus anusnya dan Mbak Rina makin terangsang, dia makin liar. Kubasahi jari tengahku dengan lendirnya, dan kuselipkan sedikit jariku ke lubang anusnya. Ini menimbulkan sensasi lain bagiku, demikian pula dia.

Dalam posisi ini kami melakukannya sudah cukup lama. Kami saling pagut, saling gigit, saling kocok, sampai akhirnya aku sudah hampir tidak kuat lagi, simpul-simpul syaraf penisku hampir meletus karena kenikmatan.
"Mbak sudah mau keluar ya..? Sscch..! Soalnya kedutannya sudah makin kenceng. Kalau mau keluar bilang ya Mbak..! Aku juga sudah tidak tahan lagi..!"
"Sebentar lagi Dik Ton, aku hampirr.. ssch.. ditahan sebentar. Sscchh.. aduh.. nikmat sekali.., Schh..!"

Dia mendekapku erat sekali, pinggulnya maju mundur makin cepat, sementara kakinya sudah melingkari pinggangku. Aku tidak tahan lagi, kugigit lehernya, kutekan kemaluanku dalam-dalam dan, "Crot.., croott.., crot..!" maniku tumpah.
Dan pada saat itu pula Mbak Rina melenguh panjang melepas orgasmenya. Sungguh kenikmatan yang tuntas bersetubuh dengan iparku.

Pagi hari sebelum aku pergi, kami masih sempat melakukannya lagi. Mbak Rina mencoba menahanku untuk tinggal sehari lagi, tapi aku tidak dapat memenuhi permintaannya, walaupun sebetulnya aku pun ingin tinggal lebih lama lagi.


TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar

cerita atah-atah

About This Blog

  © Blogger template Noblarum by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP